Ada hal yang menarik yang saya temukan pasca bencana merapi tersebut.
saya kembali mendapatkan sebuah inspirasi dari seseorang penjaga, yah penjaga merapi bisa disebut seperti itu.
Alm. Mas Penewu Soeraksohargo namanya atau yang biasa dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan. Pekerjaan beliau hanya sederhana, bahkan banyak orang yang mengangap remeh beliau. Beliau dipercayakan Sri Sultan Hamengkubowono ke IX sebagai penjaga Gunung yang bernama Merapi. Pekerjaan yang menurut saya pun aneh.
Tetapi beliau benar2 menjalankan amanah itu dengan baik, hampir kurang lebih 20 tahun beliau mengabdikan hidupnya hanya untuk menjaga sebuah gunung. Bahkan beliau wafat karena pekerjaanya. Subhanallah sekali
Kisahnya dimulai pada tahun 2006, pada kala itu merapi sedang 'gemar-gemarnya' mengeluarkan lava pijar dan juga awan panas. Pada waktu itu memang Kota Jogja sedang benar2 dilanda musibah setelah adanya Tsunami ditambah lagi adanya bencana Merapi, benar2 situasi yang sangat tidak kondusif.
Mbah maridjan yang pada waktu itu menolak untuk turun gunung benar2 membuat geger masyarakat jogja, tidak hanya jogja bahkan seluruh indonesia jadi mengenal dia. Bukan karena di ingin dikenal, tapi yah memang begitu beliau benar2 menjaga amanah yang telah diperintahkanya.
Beruntung pada waktu itu angin selalu bergerak ke arah barat, dan Mbah Maridjan pun selamat dari Bencana Merapi tersebut.
Empat tahun pasca merapi meletus, kini Merapi mulai kembali memuntahkan lava pijar dan awan panas. Yah tepat tanggal 29 Oktober 2010, merapi mulai bergejolak kembali. Letusan kali ini merupakan yang paling dahsyat selama sejarah merapi meletus. Tepat setelah merapi meletus, masyarakat jogja pun menanyakan keberadaan Mbah Maridjan. Ada yang bilang hidup dan ada yang bilang sudah meninggal.
Dan akhirnya Tim SAR pun mencari keberadaan Mbah Maridjan, Tim ini mencari di desa tempat Mbah Maridjan tinggal, desa Kepuharjo, Pakem, Sleman. Tim pun berhasil menemukan jasad yang di duga Mbah Maridjan, jasadnya ditemukan dalam keadaan sujud, benar2 di luar dugaan. Setelah diidentifikasi ternyata memang benar bahwa itu adalah Mbah Maridjan.
Masyarakat Jogja pun benar2 merasa kehilangan sosok yang banyak di kagumi oleh masyarakat. Sosok yang patut d jadikan contoh, sosok yang Alim, Sopan, Santun, dan Berakhlak mulia.
Dari Alm. Mbah Maridjan kita banyak dapat pelajaran, bahwa amanah itu seharusnya memangadi jalani dengan sebaik-baiknya, baik amanah besar ataupun kecil. Beliau pernah berpesan yang kalo diterjemahkan dalam indonya seperti ini "LEBIH BAIK SAYA MATI KARENA TANGGUNG JAWAB, DARIPADA HIDUP TAPI LARI DARI TANGGUNG JAWAB"

benar2 suatu cerita yang menarik kalo kita pahami betul kisah dari mbah maridjan, maka dari itu marilah kita jalani amanah sebaik-baiknya, mulai dari amanah pekerjaan, amanah dari orang tua untuk belajar, dan yang paling berat adalah amanah untuk hidup dari tuhan pencipta alam, ALLAH SWT
semoga teman2 mendapatkan hal positif dari catatan ini
Jogja,8 Februari 2011
Kos Keluarga
Rahmat Nugroho
:)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar