Selasa, 06 Desember 2011

Cerita dari Sindoro

Assalamu'alaikum wr. wb.
ketemu lg nih agan2, kali ini saya dan teman2 berpetualang di Gunung Sindoro yang ketinggiannya 3153 meter di atas permukaan laut.Gunung sindoro terletak di perbatasan antara kota Temangung dengan Wonosobo.kami berangkat dari kota yogyakarta sekitar pukul 4 sore dari terminal jombor menuju terminal kopeng yang berjarak kurang lebih 20 km.setibanya di terminal kopeng kita pun melanjutkan ke desa kledung, base camp gunung sindorodan kami pun memutuskan untuk memulai pendakian esok pagi harinya.
sekitar pukul 4 pagi kami pun bersiap-siap menyiapkan peralatan dan perlengkapanbarulah tepat jam 5.30 kita mulai mendaki, memasuki ladang dari masyarakat sekitar, tampak begitu indah rasanya ciptaan Allah Swt.
kurang lebih 4 jam perjalanan kita mendaki sampai pos 3, tempat di mana kami mendirikan tenda setibanya di sana saya pun langsung panjatkan syukur alhamdulilah dapat sampai di pos 3 yang berjarak kurang lebih 400 m dari puncak.
kami pun mulai mendirikan tenda dan beristirahat, sambil menunggu matahari terbit kami bersenda gurau menikmati malam dinginnya sindoro kurang lebih pukul 3 pagi kami pun terbangun dan bersiap-siap menuju puncak sindoro sayangnya 2 temen kami tidak ikut karena tidak kuat lagi untuk mendakisungguh luar biasa perjalanan menuju puncak, kami di paksa berjalan 60 derajat dari permukaan sungguh saat ekstrim bagi pemula seperti saya,hehesambil berjalan kami pun menyematkan diri untuk berfoto ria dengan latar belakang gunung sumbing, Subhanallah sungguh indah ciptaanmu ya Allah ..
tepat pukul 6 pagi kami tiba di puncak, di puncak sindoro ada sebuah kawah menjulang ke dalam, kawah itu mengeluarkan bau-bau belerang yang sangat menyengat,tak lupa kembali mengucapkan syukur kepada Allah swt atas keselamatan, kenikmatan mencapai puncak sindoro dan pukul 7.30 kami kembali menuju pos 3 untuk siap-siap berkemas pulang kembali ke jogja sungguh petualang yang sangat mengasyikan dengan teman2 Scapula Adventure'09
semoga lain kali masih bisa berpetualang dengan kalian di gunung2 selanjutnya

Salam petualang
Jogjakarta, 28 November 2011
Rahmat "The Traveler" Nugroho
wassalamu'alaikum wr wb ..

Selasa, 05 April 2011

"Setiap pekerjaan itu penting, jangan pernah meremehkan pekerjaan orang lain sekecil apapun itu."

“Huh, siyal, masa’ bocor lagi sih”, ujar Batman gemas sambil menendang pintu BatMobile-nya perlahan. Meskipun kesal, ia masih cukup sadar untuk tidak melampiaskannya kepada kendaraan tercintanya, yang cicilannya belum lunas itu. Dengan susah payah, ia mendorong mobilnya ke pinggir, ke sebuah tambal ban yang kebetulan berada tidak jauh dari situ.

Mbah Gendeng – Nambal Ban Sejak 1911

Begitu tulisan yang tertera di atas “bengkel” kecil yang didirikan seadanya di bawah sebuah pohon beringin besar.

“Bannya bocor ya, nak?”, tanya seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Iya, mbah”, jawab Batman lesu, “sudah kedua kalinya nih. Padahal baru sekitar 5km lalu bocor dan ditambal.”

“Hmmm…”, mbah Gendeng mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai mempersiapkan peralatannya. Bak air sabun untuk memeriksa bagian ban yang bocor, dongkrak, pompa angin, dan sebagainya. “Silahkan duduk dulu aja di kursi kayu itu, nak. Biar mbah kerjakan dulu bannya.”

45 menit berlalu, Batman mulai gak sabar. Maklum, ia lagi semangat-semangatnya untuk bangkit kembali dari keterpurukannya dan ingin segera sampai ke WTC untuk membuka gerai HP. Ditambah lagi, seekor kura-kura berseragam “Bukan Express” yang tadi disalipnya kini sudah berjalan melewati tempat ia duduk.

“Masa’ Batman kalah cepet ama kura-kura”, pikir Batman dalam hati. Penasaran, ia mendekati Mbah Gendeng dan mengintip kerjanya.
“Pantesan aja lama!”, sergah Batman kasar. “Lha wong kerjanya lambat banget gini! Apa gak bisa lebih cepet lagi, mbah?!”

Mbah Gendeng meletakkan ban dalam BatMobile yang sedang ia pegang dan menoleh ke arah Batman. Tatapannya yang tajam membuat Batman secara tidak sadar mundur selangkah ke belakang. Tanpa disangka, dengan tidak kalah kerasnya, Mbah Gendeng balik bertanya, “Memangnya kamu pikir pekerjaan ini tidak penting sehingga harus dikerjakan dengan terburu-buru?”

“Memang begitu, kan? Cuman nambal ban ini, apa pentingnya? Jauh lebih penting pekerjaanku yang ke sana kemari buat nyelamatin dunia dari orang jahat! Mbah tahu kan kalo aku ini Batman?!”
“Iye, terus so what gitu loh, mau situ Superman kek, Batman kek, Barack Obama kek, SBY kek, tetep aja, jangan pernah ngeremehin pekerjaan saya!”

Batman sudah akan membuka mulutnya lagi untuk menjawab, namun kakek tua itu tidak mau kalah cepat dan melanjutkan kata-katanya.

“Dengarkan baik-baik, anak muda. Coba pikir. Seandainya tadi kamu dalam perjalanan untuk menyelamatkan ribuan orang dan banmu bocor, apa bukan berarti yang saya kerjakan ini tidak sama pentingnya dengan pekerjaanmu? Dengan memperbaiki ban bocormu dengan baik dan teliti, secara tidak langsung saya suda membantu kamu menyelamatkan mereka — ribuan orang itu.”

“Tidak usah muluk-muluk. Setiap ban bocor yang saya perbaiki pasti berhasil membawa pengemudinya tiba dengan selamat sampai di rumah. Coba bayangkan apabila saya melakukannya dengan asal-asalan. Bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bukan?”

“Lihat ban dalammu ini”, Mbah Gendeng menyodorkan dua buah ban dalam BatMobile yang sedang ia kerjakan. “Perhatikan ini, bekas tambalan yang dilakukan oleh penambal ban sebelumnya. Kasar dan kurang kuat rekatannya. Itu sebabnya tadi ban mobilmu bocor lagi. Masih untung tidak terjadi apa-apa. Dan ini, yang ada di kanan, adalah hasil tambalan ban yang aku lakukan. Bandingkan!”

Batman tercenung. Ia memperhatikan ban dalam pada bagian yang ditunjukkan oleh Mbah Gendeng dan ternyata memang benar, pekerjaannya kurang baik. Bahkan jauh dibandingkan hasil pekerjaan Mbah Gendeng. Padahal tadi ia cukup senang dan memberi tips lebih kepada penambal ban sebelumnya karena kerjanya hanya butuh waktu 5 menit saja.

Dengan menunduk, Batman mohon maaf kepada Mbah gedeng dan beringsut kembali ke kursi kayu untuk menunggu. Di satu sisi, ia malu terhadap apa yang telah ia lakukan, namun di sisi lain, ia gembira karena mendapat pelajaran baru tentang hidup dan juga tentang bisnis.

“Aku pasti tidak akan kalah oleh Peter Parker”, ujar Batman dalam hati sembari tersenyum

Selasa, 08 Februari 2011

Cerita tentang merapi

Ada hal yang menarik yang saya temukan pasca bencana merapi tersebut.
saya kembali mendapatkan sebuah inspirasi dari seseorang penjaga, yah penjaga merapi bisa disebut seperti itu.

Alm. Mas Penewu Soeraksohargo namanya atau yang biasa dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan. Pekerjaan beliau hanya sederhana, bahkan banyak orang yang mengangap remeh beliau. Beliau dipercayakan Sri Sultan Hamengkubowono ke IX sebagai penjaga Gunung yang bernama Merapi. Pekerjaan yang menurut saya pun aneh.

Tetapi beliau benar2 menjalankan amanah itu dengan baik, hampir kurang lebih 20 tahun beliau mengabdikan hidupnya hanya untuk menjaga sebuah gunung. Bahkan beliau wafat karena pekerjaanya. Subhanallah sekali

Kisahnya dimulai pada tahun 2006, pada kala itu merapi sedang 'gemar-gemarnya' mengeluarkan lava pijar dan juga awan panas. Pada waktu itu memang Kota Jogja sedang benar2 dilanda musibah setelah adanya Tsunami ditambah lagi adanya bencana Merapi, benar2 situasi yang sangat tidak kondusif.

Mbah maridjan yang pada waktu itu menolak untuk turun gunung benar2 membuat geger masyarakat jogja, tidak hanya jogja bahkan seluruh indonesia jadi mengenal dia. Bukan karena di ingin dikenal, tapi yah memang begitu beliau benar2 menjaga amanah yang telah diperintahkanya.

Beruntung pada waktu itu angin selalu bergerak ke arah barat, dan Mbah Maridjan pun selamat dari Bencana Merapi tersebut.

Empat tahun pasca merapi meletus, kini Merapi mulai kembali memuntahkan lava pijar dan awan panas. Yah tepat tanggal 29 Oktober 2010, merapi mulai bergejolak kembali. Letusan kali ini merupakan yang paling dahsyat selama sejarah merapi meletus. Tepat setelah merapi meletus, masyarakat jogja pun menanyakan keberadaan Mbah Maridjan. Ada yang bilang hidup dan ada yang bilang sudah meninggal.

Dan akhirnya Tim SAR pun mencari keberadaan Mbah Maridjan, Tim ini mencari di desa tempat Mbah Maridjan tinggal, desa Kepuharjo, Pakem, Sleman. Tim pun berhasil menemukan jasad yang di duga Mbah Maridjan, jasadnya ditemukan dalam keadaan sujud, benar2 di luar dugaan. Setelah diidentifikasi ternyata memang benar bahwa itu adalah Mbah Maridjan.

Masyarakat Jogja pun benar2 merasa kehilangan sosok yang banyak di kagumi oleh masyarakat. Sosok yang patut d jadikan contoh, sosok yang Alim, Sopan, Santun, dan Berakhlak mulia.

Dari Alm. Mbah Maridjan kita banyak dapat pelajaran, bahwa amanah itu seharusnya memangadi jalani dengan sebaik-baiknya, baik amanah besar ataupun kecil. Beliau pernah berpesan yang kalo diterjemahkan dalam indonya seperti ini "LEBIH BAIK SAYA MATI KARENA TANGGUNG JAWAB, DARIPADA HIDUP TAPI LARI DARI TANGGUNG JAWAB"

benar2 suatu cerita yang menarik kalo kita pahami betul kisah dari mbah maridjan, maka dari itu marilah kita jalani amanah sebaik-baiknya, mulai dari amanah pekerjaan, amanah dari orang tua untuk belajar, dan yang paling berat adalah amanah untuk hidup dari tuhan pencipta alam, ALLAH SWT
semoga teman2 mendapatkan hal positif dari catatan ini

Jogja,8 Februari 2011
Kos Keluarga 
Rahmat Nugroho
:)

Cerita dari Semeru (3676 mdpl)



Pada awalnya saya binggung memilih liburan di semeru ataupun di gunung gede pangrango. Alhasil saya pun memutuskan untuk mencoba berpetualang di gunung tertinggi di jawa, yah semeru namanya, dengan puncaknya yang bernama Mahameru yang katanya sih tingginya sekitar 3676 meter di atas permukaan laut yang suhunya kira 4-7 celcius.



Tanggal 21 Januari pun saya berangkat ke daerah Malang, Jawa Timur. sekitar jam 12 malam saya dan teman2 saya berangkat dari stasiun menuju malang, hampir semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata karena asik mengobrol dengan rekan2 saya yang pecinta alam juga.

 Setibanya di malang pukul 8 pagi kami memutuskan untuk sarapan dulu sambil menunggu teman saya lagi yang berasal dari surabaya untuk sama2 mendaki semeru juga. tapi setelah menunggu hampir 3 jam orangnya tidak datang2, kami pun langsung memutuskan untuk langsung berangkat ke Pasar Tumpang, tempat pos awal untuk berangkat ke semeru.

Setelah bernegoisasi alot dengan penduduk sekitar untuk menumpang jeep, kendaraan yang membawa kami ke semeru, akhirnya kami pun setuju dengan harga yang menurut saya 'tidak wajar'

Sekitar jam 2 siang kami mulai menuju Gunung tertinggi di jawa itu, tapi cuaca memang sedang tidak bersahabat dengan kita, hampir di seluruh perjalanan kita pun di guyur hujan yang sangat lebat, tapi cuaca tidak memutuskan semangat saya untuk melihat keindahan Gunung Semeru itu.

Di tengah perjalanan tampak terlihat Gunung Bromo dengan hamparan padang pasir yang sangat luas, terkajub saya melihatnya, sungguh indah sekali, dalam hati ingin sekali berpetualang ke gunung itu, tapi sayang tujuan kami memang hanya ke Semeru.

Sekitar jam 4 sore kami pun tiba di desa Ranu Pani, desanya masyarakat suku tengger, salut bangut sama mereka, mereka mampu bertahan dengan cuaca yang terkadang hujan terus, bahkan disertai angin yang sangat kencang, benar2 seperti badai rasanya.

Setelah itu kami pun mencoba untuk registrasi di pos, tetapi ternyata memang Gunung Semeru itu sedang di tutup karena alasan konservasi. Konon katanya petugas di sana di tengah perjalanan menuju Mahameru, puncak semeru itu banyak sekali longsoran dan pohon yg tumbang. Dan akhirnya setelah dipikir bahaya juga apabila kami terus lanjut mendaki.

Setelah itu pun kami memutuskan hanya untuk berkemah selama 2 malam di tepi desa Ranu Pani

Cuaca yang lagi2 kurang bersahabat dengan kami pun sempat menerjang badan kami, tapi tidak memutuskan semangat kami untuk tetap berkemah di sana.

Kami menghabiskan waktu dengan memancing, berfoto2 ria, dan juga bersenda gurau sesama pendaki.
Terpikir sejenak ingin nekat mendaki gunung tertinggi di jawa itu, tapi apa daya kita lebih mementingkan nyawa dari pada hanya sekedar berpetualang yang katanya orang sih gk ada kerjaanya.

Lain kali mungkin saya akan kembali lagi untuk berpetualang di Gunung tertinggi di jawa itu, Semeru dengan puncaknya yang bernama Mahameru.
Insyallah
:D