Selasa, 08 Februari 2011

Cerita tentang merapi

Ada hal yang menarik yang saya temukan pasca bencana merapi tersebut.
saya kembali mendapatkan sebuah inspirasi dari seseorang penjaga, yah penjaga merapi bisa disebut seperti itu.

Alm. Mas Penewu Soeraksohargo namanya atau yang biasa dikenal dengan sebutan Mbah Maridjan. Pekerjaan beliau hanya sederhana, bahkan banyak orang yang mengangap remeh beliau. Beliau dipercayakan Sri Sultan Hamengkubowono ke IX sebagai penjaga Gunung yang bernama Merapi. Pekerjaan yang menurut saya pun aneh.

Tetapi beliau benar2 menjalankan amanah itu dengan baik, hampir kurang lebih 20 tahun beliau mengabdikan hidupnya hanya untuk menjaga sebuah gunung. Bahkan beliau wafat karena pekerjaanya. Subhanallah sekali

Kisahnya dimulai pada tahun 2006, pada kala itu merapi sedang 'gemar-gemarnya' mengeluarkan lava pijar dan juga awan panas. Pada waktu itu memang Kota Jogja sedang benar2 dilanda musibah setelah adanya Tsunami ditambah lagi adanya bencana Merapi, benar2 situasi yang sangat tidak kondusif.

Mbah maridjan yang pada waktu itu menolak untuk turun gunung benar2 membuat geger masyarakat jogja, tidak hanya jogja bahkan seluruh indonesia jadi mengenal dia. Bukan karena di ingin dikenal, tapi yah memang begitu beliau benar2 menjaga amanah yang telah diperintahkanya.

Beruntung pada waktu itu angin selalu bergerak ke arah barat, dan Mbah Maridjan pun selamat dari Bencana Merapi tersebut.

Empat tahun pasca merapi meletus, kini Merapi mulai kembali memuntahkan lava pijar dan awan panas. Yah tepat tanggal 29 Oktober 2010, merapi mulai bergejolak kembali. Letusan kali ini merupakan yang paling dahsyat selama sejarah merapi meletus. Tepat setelah merapi meletus, masyarakat jogja pun menanyakan keberadaan Mbah Maridjan. Ada yang bilang hidup dan ada yang bilang sudah meninggal.

Dan akhirnya Tim SAR pun mencari keberadaan Mbah Maridjan, Tim ini mencari di desa tempat Mbah Maridjan tinggal, desa Kepuharjo, Pakem, Sleman. Tim pun berhasil menemukan jasad yang di duga Mbah Maridjan, jasadnya ditemukan dalam keadaan sujud, benar2 di luar dugaan. Setelah diidentifikasi ternyata memang benar bahwa itu adalah Mbah Maridjan.

Masyarakat Jogja pun benar2 merasa kehilangan sosok yang banyak di kagumi oleh masyarakat. Sosok yang patut d jadikan contoh, sosok yang Alim, Sopan, Santun, dan Berakhlak mulia.

Dari Alm. Mbah Maridjan kita banyak dapat pelajaran, bahwa amanah itu seharusnya memangadi jalani dengan sebaik-baiknya, baik amanah besar ataupun kecil. Beliau pernah berpesan yang kalo diterjemahkan dalam indonya seperti ini "LEBIH BAIK SAYA MATI KARENA TANGGUNG JAWAB, DARIPADA HIDUP TAPI LARI DARI TANGGUNG JAWAB"

benar2 suatu cerita yang menarik kalo kita pahami betul kisah dari mbah maridjan, maka dari itu marilah kita jalani amanah sebaik-baiknya, mulai dari amanah pekerjaan, amanah dari orang tua untuk belajar, dan yang paling berat adalah amanah untuk hidup dari tuhan pencipta alam, ALLAH SWT
semoga teman2 mendapatkan hal positif dari catatan ini

Jogja,8 Februari 2011
Kos Keluarga 
Rahmat Nugroho
:)

Cerita dari Semeru (3676 mdpl)



Pada awalnya saya binggung memilih liburan di semeru ataupun di gunung gede pangrango. Alhasil saya pun memutuskan untuk mencoba berpetualang di gunung tertinggi di jawa, yah semeru namanya, dengan puncaknya yang bernama Mahameru yang katanya sih tingginya sekitar 3676 meter di atas permukaan laut yang suhunya kira 4-7 celcius.



Tanggal 21 Januari pun saya berangkat ke daerah Malang, Jawa Timur. sekitar jam 12 malam saya dan teman2 saya berangkat dari stasiun menuju malang, hampir semalam suntuk saya tidak bisa memejamkan mata karena asik mengobrol dengan rekan2 saya yang pecinta alam juga.

 Setibanya di malang pukul 8 pagi kami memutuskan untuk sarapan dulu sambil menunggu teman saya lagi yang berasal dari surabaya untuk sama2 mendaki semeru juga. tapi setelah menunggu hampir 3 jam orangnya tidak datang2, kami pun langsung memutuskan untuk langsung berangkat ke Pasar Tumpang, tempat pos awal untuk berangkat ke semeru.

Setelah bernegoisasi alot dengan penduduk sekitar untuk menumpang jeep, kendaraan yang membawa kami ke semeru, akhirnya kami pun setuju dengan harga yang menurut saya 'tidak wajar'

Sekitar jam 2 siang kami mulai menuju Gunung tertinggi di jawa itu, tapi cuaca memang sedang tidak bersahabat dengan kita, hampir di seluruh perjalanan kita pun di guyur hujan yang sangat lebat, tapi cuaca tidak memutuskan semangat saya untuk melihat keindahan Gunung Semeru itu.

Di tengah perjalanan tampak terlihat Gunung Bromo dengan hamparan padang pasir yang sangat luas, terkajub saya melihatnya, sungguh indah sekali, dalam hati ingin sekali berpetualang ke gunung itu, tapi sayang tujuan kami memang hanya ke Semeru.

Sekitar jam 4 sore kami pun tiba di desa Ranu Pani, desanya masyarakat suku tengger, salut bangut sama mereka, mereka mampu bertahan dengan cuaca yang terkadang hujan terus, bahkan disertai angin yang sangat kencang, benar2 seperti badai rasanya.

Setelah itu kami pun mencoba untuk registrasi di pos, tetapi ternyata memang Gunung Semeru itu sedang di tutup karena alasan konservasi. Konon katanya petugas di sana di tengah perjalanan menuju Mahameru, puncak semeru itu banyak sekali longsoran dan pohon yg tumbang. Dan akhirnya setelah dipikir bahaya juga apabila kami terus lanjut mendaki.

Setelah itu pun kami memutuskan hanya untuk berkemah selama 2 malam di tepi desa Ranu Pani

Cuaca yang lagi2 kurang bersahabat dengan kami pun sempat menerjang badan kami, tapi tidak memutuskan semangat kami untuk tetap berkemah di sana.

Kami menghabiskan waktu dengan memancing, berfoto2 ria, dan juga bersenda gurau sesama pendaki.
Terpikir sejenak ingin nekat mendaki gunung tertinggi di jawa itu, tapi apa daya kita lebih mementingkan nyawa dari pada hanya sekedar berpetualang yang katanya orang sih gk ada kerjaanya.

Lain kali mungkin saya akan kembali lagi untuk berpetualang di Gunung tertinggi di jawa itu, Semeru dengan puncaknya yang bernama Mahameru.
Insyallah
:D